KENAPA ORANG OBESITAS LEBIH BERISIKO MENGALAMI HIPERTENSI?

Ladies, penambahan berat badan berlebihan yang diikuti dengan tingginya laju visceral fat atau biasa disebut lemak perut ternyata menyumbang 65%-75% dari risiko hipertensi primer (esensial) atau penyakit darah tinggi. Penyakit hipertensi diketahui sebagai penyebab kematian terbesar dari kelompok penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi kematian sebesar 13%. Di Indonesia sendiri, hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penderita hipertensi sebesar 34,1% lho ladies, cukup banyak bukan?

Apa Hubungan Obesitas dan Hipertensi?

Studi Framingham menyatakan bahwa sebanyak 26% laki-laki dan 28% perempuan penderita hipertensi mengalami obesitas. Semakin besar massa tubuh seseorang, maka akan semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk menyuplai oksigen serta nutrisi ke otot dan jaringan lain. Obesitas menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah yang menyebabkan pembuluh darah menjadi tegang, yang akhirnya menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Pada orang yang mengalami obesitas, terjadi pemanjangan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan terjadinya resistensi darah. Resistensi darah membuat darah yang seharusnya mampu menempuh jarak lebih jauh dengan mudah menjadi membutuhkan tekanan yang lebih tinggi untuk menjangkau jarak yang jauh. Kondisi ini juga dapat diperparah oleh adanya sel-sel jaringan lemak yang memproduksi senyawa merugikan bagi jantung dan pembuluh darah, yang menyebabkan tingginya tekanan darah pada pembuluh darah. 

Penderita obesitas akan mengalami kondisi yang disebut dengan resistensi insulin, di mana sel tidak dapat mengenali insulin, sehingga glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel. Obesitas juga akan mempengaruhi penyerapan natrium dalam ginjal. Kedua kondisi tersebut akan menyebabkan peningkatan aktivitas saraf sempatis dan sistem renin angiotensin yang berperan meningkatkan tekanan darah. Hipertensi sendiri terdiri dari 2 (dua) derajat yaitu hipertensi derajat 1 (sistolik 140-159 mmHg dan atau diastolik 90-99 mmHg) dan derajat 2 (sistolik >160 dan atau diastolik >100).

Kesimpulan

Dengan mekanisme di atas, penderita obesitas dengan IMT >30 kg/m2 memiliki risiko terkena hipertensi 5 kali lipat lebih besar dibandingkan orang dengan berat badan normal. Oleh karena itu, perlu adanya manajemen berat badan untuk menurunkan risiko terjadinya penyakit hipertensi. Manajemen berat badan ini dapat dilakukan dengan rutin mengkonsumsi sayur dan buah, membatasi konsumsi kalori yang berlebihan, membatasi konsumsi natrium maksimal 1 sdt per hari, serta memperbanyak aktivitas fisik.

Sumber:

Kemenkes RI. 2018. Laporan Nasional Riskesdas 2018. [online] Tersedia di: http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf

Teguh dan Syahrizal. 2017. “The Relationship of Obesity with Incidence of Hypertension Stage 1 at Integrated Coaching Post of Non-Communicable Disease (Posbindu PTM) Port Health Office of Bandung in 2016”. Jurnal Epidemologi Kesehatan Indonesia

John etc. 2015. “Obesity-Induced Hypertension”. https://doi.org/10.1161/CIRCRESAHA.116.305697Circulation Research. 2015;116:991–1006

Artikel Lainnya