KERAP GAGAL SAAT DIET? YUK UBAH FOKUS DIETMU!

Ladies, banyak orang menjalani diet dan berolahraga dengan tujuan untuk menurunkan berat badan. Itu merupakan alasan yang bagus, karena dengan menurunkan berat badan, bisa mengurangi risiko obesitas dan penyakit kronis. Sayangnya, beberapa orang mungkin hanya berfokus pada angka penurunan berat badan saja. Padahal, hal ini dapat membuat seseorang merasa frustasi dan ingin menyerah ketika tidak mendapatkan progress apapun atau saat berat badannya tak kunjung turun. Itulah mengapa, penting untuk menetapkan tujuan atau goals di luar angka peurunan berat badan saja.

Siklus Diet Sia-sia

Ladies, baru-baru ini ada suatu studi yang menyimpulkan bahwa, selama kurang lebih 40 tahun dilakukan studi di beberapa negara menunjukkan bahwa program yang bertujuan untuk menurunkan berat badan seringkali mengalami kegagalan. Hal ini karena program tersebut cenderung hanya berfokus pada penurunan berat badan yang dilihat dari angka penurunan berat badan berdasarkan kilogram atau weight centricMindset weight centric ini bisa menyebabkan suatu siklus yang sia-sia, di mana penurunan berat badan seringkali diikuti kenaikan berat badan kembali atau dikenal dengan istilah diet yoyo. Bukan tanpa alasan hal tersebut bisa terjadi, diagram berikut menggambarkan bagaimana siklus diet sia-sia terjadi.

Keluar dari Siklus Diet Sia-sia

Apakah ada solusi agar kita keluar dari siklus diet yang sia-sia ini?

Untuk keluar dari siklus diet sia-sia, jangan hanya berfokus pada angka timbangan berat badan saja. Kamu bisa mulai dengan menetapkan tujuan lain yang tidak berfokus pada penurunan berat badan saja. Ini akan membantumu mencapai tujuan penurunan berat badan yang diinginkan. Keberhasilan diet bukan hanya soal angka berat badan pada timbangan saja. Kamu bisa mengalihkan fokus dietmu dari weight centric ke beberapa tujuan berikut:

1. Performance Goals

Alih-alih menjalani diet dengan hanya berfokus pada angka penurunan berat badan, cobalah alihkan fokus dietmu dari yang awalnya weight centric (fokus pada berat badan) menjadi performance centric (fokus pada performa). Jansen Ongko, seorang Registered Dietitian sekaligus CEO Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia mengatakan bahwa, dari pada menilai progress diet berdasarkan angka penurunan berat badan saja, lebih baik mengukur seberapa kuat performa atau hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan berat badan. Contohnya seperti durasi olahraga yang meningkat, jarak lari lebih jauh, atau kemampuan mengangkat beban lebih berat. Berat badan merupakan refleksi dari gaya hidup. Apabila dari segi olahraga terjadi peningkatan performa, artinya gaya hidup kamu mendukung agar performa kamu meningkat. Semakin tinggi performa, maka akan berdampak pula pada berat badan. Maka dari itu, jangan hanya mengacu pada angka berat badan saja.  Dengan mengacu pada performance centric akan membuat program penurunan berat badan, penurunan risiko kesehatan lebih efektif.

Performance goals terfokus pada satu hal sederhana, yakni improvement atau perbaikan. Bayangkan jika setiap minggu kamu menjadi lebih baik, ini akan terus mendorongmu untuk menjadi jauh lebih baik lagi. Improvement akan membuat kamu tetap bersemangat dan termotivasi, serta membantu kamu mencapai progress yang diinginkan. Buatlah catatan untuk setiap kemajuan yang berhasil kamu capai.

2. Body Composition Goals

Bicara soal tubuh ideal, itu bukan hanya dinilai dari angka timbangan berat badan saja, tapi juga dari komposisi tubuh seperti massa lemak, lemak visceral, dan massa otot. Memiliki komposisi tubuh yang sehat merupakan salah satu hal yang bisa memotivasi kamu untuk terus maju. Kamu mungkin ingin memiliki massa lemak yang lebih rendah dan massa otot yang lebih tinggi. Memiliki massa otot yang lebih tinggi dan massa lemak yang lebih rendah membantumu terhindar dari risiko penyakit kardiovaskular. Bukan hanya itu, massa otot yang lebih tinggi juga berkaitan dengan peningkatan metabolisme tubuh. Ini artinya, semakin banyak kalori yang dibakar oleh tubuh, yang bisa membantumu menurunkan berat badan.

Berikut ini kisaran komposisi tubuh:

3. Health Goals

Menjalani diet dan olahraga untuk tujuan kesehatan atau untuk mengurangi risiko penyakit merupakan goals lain yang bisa kamu terapkan untuk mencapai target dietmu. Misalnya, seperti ketika kamu ingin terhindar dari risiko penyakit jantung, maka kamu akan menjaga pola makanmu dan juga rutin melakukan olahraga agar jantungmu tetap sehat. Secara bersamaan kamu juga menjaga berat badanmu tetap normal. Konsultasikan kondisi kesehatanmu dan periksalah secara berkala ya ladies.

4. Real-life Goals

Dalam tujuan ini, kita melihat manfaat lain dari olahraga yang kita lakukan. Olahraga mungkin memberikan kita kemajuan dalam hal kebugaran dan kekuatan. Seseorang yang lebih kuat mampu mengangkat lebih banyak beban, dan lebih bugar, serta ramping. Namun, bukan itu saja, peningkatan kekuatan dan kebugaran ini juga membantu kita dalam memposisikan diri dan menjalani aktivitas di kehidupan sehari-hari dengan lebih baik. Misalnya, kamu mampu memindahkan perabot tanpa bantuan, mampu bermain dengan anak-anakmu di taman tanpa rasa lelah, duduk dengan nyaman di kursi pesawat, dan lain sebagainya. Ini akan membuatmu lebih percaya diri dan mandiri. Merasa mandiri dan mengetahui bahwa kamu bisa menjaga dirimu sendiri merupakan motivator yang sangat kuat untuk membantumu terus maju.

Ladies, itulah beberapa tujuan lain yang bisa kamu tetapkan saat memulai diet. Ingat, menjalani diet untuk menurunkan berat badan itu boleh saja. Tapi jika kamu terus-menerus fokus pada tujuan itu dengan mengabaikan semua peningkatan dan pencapaian yang kamu alami, mungkin kamu akan merasa frustasi dan mudah menyerah. Untuk itu, cobalah untuk mengalihkan fokus dietmu ke hal-hal lainnya yang tidak berkaitan dengan berat badan. Ini akan membantumu keluar dari siklus diet sia-sia.

Sumber:

APKI. (2021). PENJELASAN TENTANG WEIGHT CENTRIC VS PERFORMANCE CENTRIC. Online. Tersedia di: https://www.instagram.com/tv/CV7c5iQDKC0/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D

Dynamic Strength and Conditioning. (n.d). Why You Need Performance-Based Goals. [online] Tersedia di: https://www.dynamicsc.com/blog/why-you-need-performance-based-goals

Gaesser, G. A., & Angadi, S. S. (2021). Obesity treatment: Weight loss versus increasing fitness and physical activity for reducing health risks. iScience24(10), 102995. https://doi.org/10.1016/j.isci.2021.102995

Galbraith, M. (2014). 5 Motivating Goals That Result in Weight Loss (without Trying). [online] Tersedia di: https://www.sparkpeople.com/blog/blog.asp?post=5_goals_to_focus_on_instead_of_the_scale

Omron Health Care FAQ. [online] Tersedia di: <https://www.omronhealthcare-ap.com/ap/faqs/weight-management>

Srikanthan, P., Horwich, T. B., & Tseng, C. H. (2016). Relation of Muscle Mass and Fat Mass to Cardiovascular Disease Mortality. The American journal of cardiology117(8), 1355–1360. https://doi.org/10.1016/j.amjcard.2016.01.033

Artikel Lainnya