11 Alasan Kenapa Kelebihan Gula Bisa Merugikan Kesehatan

Rasa manis memang sulit ditolak, dari secangkir kopi kekinian sampai camilan favorit setelah makan siang, gula selalu berhasil menyelinap ke dalam menu harian kita tanpa disadari. Tapi di balik rasa yang menggoda itu, ada dampak besar yang perlu kamu ketahui. Berbagai penelitian dari lembaga kesehatan dunia sampai jurnal kedokteran ternama menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebihan bisa memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, mulai dari jantung, otak, kulit, sampai suasana hati. Padahal tubuh yang sehat adalah kunci supaya kamu tetap bebas bergerak menjalani aktivitas harian, tetap percaya diri tampil setiap saat, dan mendapat asupan yang lengkap dan aman untuk jangka panjang. Yuk simak sebelas alasan kenapa kamu perlu mulai mengurangi gula mulai sekarang.

1. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Sebuah penelitian besar dari Harvard yang mengikuti ribuan orang dewasa Amerika selama lima belas tahun menemukan bahwa orang yang mendapat dua puluh lima persen atau lebih kalori hariannya dari gula tambahan memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung lebih dari dua kali lipat dibanding mereka yang asupan gula tambahannya di bawah sepuluh persen. Gula tambahan yang berlebihan diketahui dapat memicu peradangan pembuluh darah dan menaikkan tekanan darah, dua hal yang menjadi cikal bakal gangguan jantung di kemudian hari.

2. Memicu Kenaikan Berat Badan

Minuman dan makanan tinggi gula cenderung padat kalori tapi rendah rasa kenyang. Konsumsi fruktosa berlebih diketahui dapat mengganggu kerja leptin, hormon yang bertugas memberi sinyal kenyang ke otak. Akibatnya tubuh terus merasa lapar meski sudah makan banyak, dan berat badan pun perlahan naik tanpa disadari. Di sinilah pilihan kandungan gizi dari sumber pangan yang tepat menjadi penting, misalnya dengan memilih minuman tinggi serat pangan yang membantu memberi rasa kenyang lebih lama dan mengontrol asupan makan agar tidak berlebihan, seperti WRP Fibby yang terbuat dari delapan ekstrak buah dan sayur yaitu apel, jambu, markisa, jeruk, wortel, asparagus, bayam, dan brokoli, serta membantu memenuhi dua puluh satu persen kebutuhan serat harian.

3. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe Dua

Konsumsi gula tambahan yang terus menerus dapat memicu resistensi insulin, kondisi ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin dengan baik sehingga kadar gula darah tetap tinggi. Kondisi ini menjadi jalan utama menuju diabetes tipe dua di kemudian hari. Sebagai gantinya kamu bisa memilih produk yang bebas gula namun tetap menyegarkan dan tidak enek, WRP Fibby misalnya menggunakan stevia yang tidak menimbulkan lonjakan gula darah sehingga aman dikonsumsi termasuk untuk penderita diabetes serta membantu mengurangi asupan gula harian.

4. Merusak Kesehatan Gigi

Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan bahwa menjaga asupan gula bebas di bawah sepuluh persen dari total energi harian terbukti menurunkan risiko kerusakan gigi atau karies. Bakteri di dalam mulut memakan sisa gula dan menghasilkan asam yang lambat laun mengikis lapisan email gigi hingga menimbulkan lubang.

5. Membebani Kerja Hati

Fruktosa yang berasal dari gula tambahan diproses langsung oleh organ hati. Ketika jumlahnya berlebihan, hati mengubah kelebihan fruktosa menjadi lemak, yang lama kelamaan dapat memicu perlemakan hati non alkohol. Organ hati yang bekerja terlalu berat tentu akan memengaruhi kemampuan tubuh untuk tetap bebas bergerak dan beraktivitas secara optimal setiap hari.

6. Mempercepat Penuaan Kulit

Kelebihan gula dalam darah dapat memicu proses glikasi, yaitu ikatan antara molekul gula dan protein kolagen yang membuat kulit kehilangan elastisitasnya lebih cepat. Kondisi ini bisa membuat kulit tampak kusam dan garis halus muncul lebih awal, tentu hal seperti ini bisa memengaruhi rasa percaya diri kamu saat tampil setiap hari. Vitamin C berperan penting dalam mendukung produksi kolagen alami tubuh dan berfungsi sebagai antioksidan, kandungan gizi seperti ini bisa kamu penuhi lewat pilihan minuman yang tepat, seperti WRP Fibby yang memenuhi seratus persen kebutuhan vitamin C harian.

7. Berkaitan dengan Risiko Depresi

Penelitian jangka panjang Whitehall II menemukan bahwa asupan tinggi gula dari makanan dan minuman manis berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati dan depresi pada orang dewasa. Fluktuasi gula darah yang tajam diduga turut memengaruhi kestabilan emosi dari waktu ke waktu.

8. Menyebabkan Energi Naik Turun

Lonjakan gula darah setelah mengonsumsi makanan manis biasanya diikuti penurunan tajam tidak lama kemudian, kondisi yang sering disebut energy crash. Efeknya tubuh terasa lemas dan sulit berkonsentrasi, jauh dari kondisi ideal untuk tetap bebas bergerak menjalani hari yang padat. Serat pangan justru bekerja sebaliknya, memperlambat penyerapan gula ke darah sehingga energi lebih stabil sepanjang hari, seperti kandungan psyllium husk pada WRP Fibby yang berkontribusi menurunkan kenaikan kadar gula darah setelah makan, dilengkapi pula dengan serat larut inulin dari chicory yang membantu memelihara fungsi saluran pencernaan.

9. Meningkatkan Risiko Asam Urat

Fruktosa dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah, kondisi yang berisiko memicu peradangan sendi atau gout. Studi ini menunjukkan hubungan antara minuman tinggi fruktosa dan meningkatnya kejadian gout, terutama pada perempuan.

10. Menurunkan Fungsi Kognitif

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi gula dapat memicu peradangan dan resistensi insulin di otak, dua faktor yang berpotensi mengganggu daya ingat dan kemampuan berpikir dalam jangka panjang. Otak yang sehat tentu menjadi modal penting supaya kamu tetap percaya diri dalam berpikir dan mengambil keputusan setiap hari.

11. Memicu Kecanduan Rasa Manis

Gula diketahui dapat mengaktifkan jalur penghargaan di otak dengan melepaskan dopamin, mekanisme yang mirip dengan yang terjadi pada zat adiktif lain. Semakin sering mengonsumsi gula, semakin tinggi pula ambang rasa manis yang dibutuhkan otak agar merasa puas, sehingga muncul siklus keinginan mengonsumsi gula yang sulit dihentikan begitu saja.

Saatnya Lebih Bijak Memilih Asupan Harian

Sebelas hal di atas menunjukkan bahwa dampak gula berlebihan pada tubuh benar benar luas, mulai dari jantung, hati, kulit, sampai suasana hati semuanya bisa terpengaruh dalam jangka panjang. Kabar baiknya kamu tidak perlu menghilangkan rasa manis sepenuhnya dari hidup, cukup pilih sumber kandungan gizi yang tepat agar tubuh tetap mendapat asupan yang lengkap dan aman setiap hari. Dengan pola makan yang lebih terjaga, kamu bisa tetap bebas bergerak menjalani rutinitas padat, tampil percaya diri kapan saja, dan menjaga kesehatan jangka panjang tanpa harus khawatir dengan efek gula berlebihan pada tubuh.

Semua produk WRP lengkap dan aman dikonsumsi setiap hari. Kamu bisa dapatkan produk WRP di E-Commerce kesayangan kamu. So, Ladies let’s unlock your confidence!

 

 

 

Daftar Pustaka

Beilharz, J. E., Maniam, J., & Morris, M. J. (2016). Diet-induced cognitive deficits: The role of fat and sugar, potential mechanisms and nutritional interventions. Nutrients, 8(12), 767. https://doi.org/10.3390/nu8120767

Choi, H. K., Willett, W., & Curhan, G. (2010). Fructose-rich beverages and risk of gout in women. JAMA, 304(20), 2270–2278. https://doi.org/10.1001/jama.2010.1638

Danby, F. W. (2010). Nutrition and aging skin: Sugar and glycation. Clinics in Dermatology, 28(4), 409–411. https://doi.org/10.1016/j.clindermatol.2010.03.018

DiNicolantonio, J. J., O’Keefe, J. H., & Lucan, S. C. (2015). Added fructose: A principal driver of type 2 diabetes mellitus and its consequences. Mayo Clinic Proceedings, 90(3), 372–381. https://doi.org/10.1016/j.mayocp.2014.12.019

DiNicolantonio, J. J., O’Keefe, J. H., & Wilson, W. L. (2018). Sugar addiction: Is it real? A narrative review. British Journal of Sports Medicine, 52(14), 910–913. https://doi.org/10.1136/bjsports-2017-097971

Knüppel, A., Shipley, M. J., Llewellyn, C. H., & Brunner, E. J. (2017). Sugar intake from sweet food and beverages, common mental disorder and depression: Prospective findings from the Whitehall II study. Scientific Reports, 7, 6287. https://doi.org/10.1038/s41598-017-05649-7

Malik, V. S., Popkin, B. M., Bray, G. A., Després, J. P., & Hu, F. B. (2010). Sugar-sweetened beverages, obesity, type 2 diabetes mellitus, and cardiovascular disease risk. Circulation, 121(11), 1356–1364. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.109.876185

Softic, S., Cohen, D. E., & Kahn, C. R. (2016). Role of dietary fructose and hepatic de novo lipogenesis in fatty liver disease. Digestive Diseases and Sciences, 61(5), 1282–1293. https://doi.org/10.1007/s10620-016-4054-0

World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars intake for adults and children. WHO Press.

Yang, Q., Zhang, Z., Gregg, E. W., Flanders, W. D., Merritt, R., & Hu, F. B. (2014). Added sugar intake and cardiovascular diseases mortality among US adults. JAMA Internal Medicine, 174(4), 516–524. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2013.13563

 

Artikel Lainnya