Benarkah Gula Pemicu Inflamasi? Ini Faktanya!

gula

Pertanyaan seperti ini paling sering muncul “kenapa ya setelah makan yang manis-manis badan jadi gampang pegal jerawat muncul dan badan terasa berat?”. Ladies, jawabannya itu ada di satu kata yang jarang dibahas tuntas yaitu inflamasi.

Inflamasi atau peradangan sebenarnya mekanisme alami tubuh untuk melawan infeksi dan luka tapi ketika ia terjadi terus menerus walaupun dalam skala kecil tanpa disadari itu yang disebut inflamasi kronis tingkat rendah dan gula ternyata punya andil besar di sana.

Bagaimana Gula Memicu Peradangan Dalam Tubuh

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrients menjelaskan konsumsi gula terutama fruktosa yang terdapat pada sukrosa maupun sirup jagung tinggi fruktosa berkaitan dengan peningkatan proses inflamasi dalam tubuh karena dietary sugar consumption dipostulasikan berkontribusi pada peningkatan proses inflamasi pada manusia yang mungkin spesifik terjadi pada fruktosa baik dalam bentuk tunggal sukrosa maupun sirup jagung tinggi fruktosa.

Secara mekanisme, gula dalam pola makan mendorong sintesis asam lemak bebas secara de novo di hati yang menurut teori lipotoksisitas dapat menghasilkan metabolit asam lemak bebas yang memicu proses inflamasi serta pembentukan spesies oksigen reaktif.

Menariknya fruktosa diketahui dimetabolisme secara berbeda dari glukosa sebab glukosa dapat diproses oleh hampir semua sel tubuh. Sedangkan fruktosa harus diproses khusus di hati karena tidak ada mekanisme kontrol alami yang membatasi pasokan fruktosa berlebih ke mitokondria hati. Akhirnya sebagian fruktosa diubah menjadi bahan pembentuk lemak baru proses inilah yang lambat laun membebani metabolisme dan memicu respons peradangan ringan yang menumpuk dari waktu ke waktu.

Studi lain menyebutkan pola makan tinggi antioksidan serat maupun asam lemak tak jenuh rantai panjang justru berkaitan dengan kadar biomarker proinflamasi yang lebih rendah. Artinya bukan semata-mata langsung menghindari gula tapi juga memikirkan gulanya digantikan dengan apa saja.

Kenapa Pilihan Camilan Harian Jadi Penentu

Di sinilah kebiasaan kecil kamu jadi penting, saat ini sudah banyak wanita Indonesia mulai mengganti camilan manis dengan camilan yang memilki klaim ‘bebas gula’. Kabar baiknya, Ladies bisa dapatkan produk camilan manis namun tetap bebas gula di WRP Chocolate Cookies. Selain bebas gula, WRP  Chocolate Cookies juga tinggi serat sehingga bisa bikin kenyang lebih lama. Serat yang terkandung di dalamnya juga berperan penting untuk kesehatan pencernaan sehingga Ladies bisa tetap bebas bergerak.

Penelitian dari jurnal Nutrients menunjukkan serat pangan berperan penting dalam mengatur asupan energi dan menstabilkan kadar glukosa darah pasca makan sehingga bermanfaat untuk pencegahan penyakit kronis. Riset lain juga mencatat serat pangan meningkatkan rasa kenyang dengan cara memperlambat pengosongan lambung sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi pada waktu makan berikutnya berkurang, ini sangat penting untuk menjaga tubuh kamu agar bisa bebas bergerak dan percaya diri.

Jadi ketika rasa kenyang lebih terjaga keinginan untuk ngemil manis berlebih pun ikut berkurang. Secara tidak langsung ini membantu menekan asupan gula tambahan harian yang selama ini jadi salah satu pemicu peradangan ringan tadi. Ladies bisa dapatkan produk WRP di E-Commerce kesayangan kamu.

Jadi Haruskah Gula Sepenuhnya Dihindari?

gula

Jawabannya tidak sesederhana itu, gula tetap dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi utama. Justru yang perlu diperhatikan adalah jumlah dan sumbernya membatasi gula tambahan sambil memperbanyak asupan zat gizi seimbang seperti serat, protein dan kalsium adalah kunci menjaga tubuh tetap sehat dari dalam.

Ketika tubuh terjaga dari peradangan kronis tingkat rendah, efeknya bukan cuma di berat badan, kulit lebih bersih energi lebih stabil dan yang paling penting rasa percaya diri ikut meningkat karena tubuh terasa lebih ringan dan siap bebas bergerak kapan saja.

Jadi mulai sekarang yuk lebih teliti memilih apa yang masuk ke piring harianmu. Camilan yang bebas gula, tinggi serat namun rasanya tetap enak bisa jadi pilihan yang berpengaruh besar untuk tubuh kamu agar bisa lebih sehat dan percaya diri. So Ladies, let’s unlock your confidence!.

 

 

 

Daftar Pustaka

Della Corte, K. W., Perrar, I., Penczynski, K. J., Schwingshackl, L., Herder, C., & Buyken, A. E. (2018). Effect of dietary sugar intake on biomarkers of subclinical inflammation: A systematic review and meta-analysis of intervention studies. Nutrients, 10(5), 606. https://doi.org/10.3390/nu10050606

Choo, V. L., Viguiliouk, E., Blanco Mejia, S., Cozma, A. I., Khan, T. A., Ha, V., Wolever, T. M. S., Leiter, L. A., Vuksan, V., Kendall, C. W. C., & Sievenpiper, J. L. (2022). Effect of important food sources of fructose-containing sugars on inflammatory biomarkers: A systematic review and meta-analysis of controlled feeding trials. Advances in Nutrition. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9572084/

Wu, S., Jia, W., He, H., Yin, J., Xu, H., He, C., Zhang, Q., Peng, Y., & Cheng, R. (2023). A new dietary fiber can enhance satiety and reduce postprandial blood glucose in healthy adults: A randomized cross-over trial. Nutrients, 15(21), 4569. https://doi.org/10.3390/nu15214569

Frontiers in Nutrition Editorial Team. (2025). Association between dietary fiber intake and obesity in US adults: From NHANES 1999-2018. Frontiers in Nutrition. https://www.frontiersin.org/journals/nutrition/articles/10.3389/fnut.2025.1602600/full

Adam, C. L., Gratz, S. W., Peinado, D. I., Thomson, L. M., Garden, K. E., Williams, P. A., Richardson, A. J., & Ross, A. W. (2015). Soluble fermentable dietary fibre (pectin) decreases caloric intake, adiposity and lipidaemia in high-fat diet-induced obese rats. PLOS ONE. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4598151/

Artikel Lainnya