Kenapa Bisa Selalu Lapar Saat Defisit Kalori dan Apa yang Bisa Dilakukan

lapar

Pernah nggak sih Ladies udah niat banget makan lebih sedikit demi turun berat badan, tapi baru jam sepuluh pagi perut sudah bunyi kayak lagi demo. Terus muncul rasa bersalah karena mikir “kok aku lemah banget ya” padahal sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan lemah atau nggaknya kemauan kamu. Banyak Ladies memiliki keluhan yang sama. Mereka udah disiplin, udah nurunin porsi, tapi rasa lapar itu nggak kunjung reda. Nah di artikel ini akan dijelasin dari sisi ilmiah kenapa hal ini terjadi dan apa yang sebenarnya bisa Ladies lakukan supaya proses diet terasa lebih ringan tanpa harus berperang setiap hari melawan perut sendiri.

Tubuh Kamu Memang Didesain untuk Melawan Defisit Kalori

Waktu asupan kalori dikurangi, tubuh nggak diam saja. Ada dua hormon utama yang ikut bermain yaitu leptin dan ghrelin. Leptin adalah hormon yang bikin kamu merasa kenyang, sementara ghrelin adalah hormon yang memicu rasa lapar. Penelitian jangka panjang yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menemukan bahwa setelah seseorang berhasil turun berat badan, kadar leptin turun drastis dan kadar ghrelin justru meningkat, dan perubahan ini masih terlihat bahkan satu tahun kemudian dengan peningkatan rasa lapar yang tetap signifikan dibanding kondisi awal. Artinya tubuh kamu secara aktif berusaha mengembalikan energi yang hilang lewat sinyal lapar yang lebih kuat. Sebuah meta analisis terbaru di International Journal of Obesity juga mengonfirmasi bahwa pembatasan kalori secara konsisten meningkatkan kadar ghrelin sekaligus menurunkan hormon rasa kenyang seperti PYY dan GLP-1. Jadi kalau kamu ngerasa lapar terus selama diet, itu tidak berarti kamu gagal. Itu respons biologis yang memang sudah tertulis dalam sistem tubuh manusia sejak dulu.

Faktor Lain yang Memperparah Rasa Lapar

lapar

Selain hormon, ada beberapa hal lainnya yang sering luput dari perhatian kita padahal pengaruhnya besar. Kurang tidur misalnya terbukti meningkatkan ghrelin dan menurunkan leptin sehingga rasa lapar jadi lebih intens keesokan harinya. Stres juga berperan karena mengganggu jalur komunikasi antara usus dan otak sehingga muncul keinginan kuat terhadap makanan tinggi kalori seperti yang dijelaskan oleh peneliti dari Tufts University. Kalau kamu lagi diet sambil begadang dan pikiran penuh tekanan kerja, wajar banget kalau rasa lapar terasa jauh lebih sulit dikendalikan dibanding biasanya.

Protein Adalah Kunci Utama Menekan Rasa Lapar

lapar

Kabar baiknya, ada cara mengelola sinyal lapar ini lewat pilihan makanan yang tepat. Protein terbukti punya efek kenyang paling kuat dibanding karbohidrat maupun lemak. Review yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition menjelaskan bahwa protein memiliki sifat kenyang non spesifik yang lebih kuat dibanding lemak atau karbohidrat sehingga dapat menurunkan asupan energi harian, dan efek ini paling optimal ketika satu waktu makan mengandung sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh gram protein. Studi lain menunjukkan bahwa konsumsi protein secara akut dapat menurunkan rasa lapar dan meningkatkan rasa kenyang secara signifikan disertai penurunan hormon ghrelin. Ini sebabnya kombinasi protein whey dan kasein sering direkomendasikan dalam program penurunan berat badan karena keduanya dicerna dengan kecepatan berbeda sehingga rasa kenyang bisa bertahan lebih lama.

Serat Bikin Rasa Kenyang Bertahan Lebih Lama

Selain protein, serat juga punya peran penting. Serat larut memperlambat pengosongan lambung sehingga makanan bertahan lebih lama di saluran cerna. Review sistematis yang dimuat di jurnal Foods menjelaskan bahwa serat larut memperlambat pengosongan lambung dan berperan besar dalam regulasi rasa lapar. Selain itu proses fermentasi serat di usus besar menghasilkan asam lemak rantai pendek yang ikut memicu pelepasan hormon rasa kenyang seperti GLP-1 dan PYY. Jadi kalau menu diet kamu rendah serat kemungkinan besar rasa lapar akan datang lebih cepat meski jumlah kalorinya sudah dihitung dengan teliti.

Kapan Susu Diet Bisa Membantu

Nah di sinilah susu diet pengganti makan bisa jadi solusi praktis buat kamu yang sering kewalahan menghitung porsi tapi tetap butuh asupan yang lengkap dan rendah kalori. Meta analisis dari Universitas Oxford yang dimuat di Obesity Reviews menemukan bahwa program penurunan berat badan yang menyertakan meal replacement menghasilkan penurunan berat badan rata rata lebih besar dibanding diet konvensional tanpa meal replacement dalam jangka waktu satu tahun. Ini artinya mengganti satu atau dua waktu makan dengan susu diet lebih dari sekadar tren karena memang punya dasar ilmiah yang kuat.

Sebagai contoh satu sachet WRP Meal Replacement hanya mengandung sekitar 210 kkal dibanding makanan biasa yang bisa mencapai 500-700 kkal untuk satu porsi. Kandungan gizinya juga dirancang lengkap yaitu kombinasi protein whey dan kasein untuk menjaga rasa kenyang lebih lama, tinggi kalsium untuk mendukung kepadatan tulang dan gigi, tinggi serat untuk melancarkan pencernaan, omega-3 untuk memberi asupan zat gizi bagi otak dan menjaga konsentrasi selama menjalani program diet, serta omega-6 yang membantu menurunkan kadar kolesterol jahat. Ditambah 10 vitamin dan 9 mineral yang bisa memenuhi 80-90% kebutuhan zat gizi mikro harian. Jadi kamu tetap bisa menjalani defisit kalori tanpa was was kekurangan zat gizi penting lainnya. Ladies bisa dapatkan produk WRP di E-Commerce kesayangan kamu.

Menjaga Rasa Percaya Diri Sambil Tetap Bebas Bergerak

susu diet

Diet yang baik itu tidak seharusnya bikin kamu lemas dan takut beraktivitas, tapi tetap membuat kamu bebas bergerak menjalani rutinitas harian mulai dari kerja, olahraga, sampai kumpul bareng teman. Kalau asupan protein dan zat gizi terpenuhi, energi tubuh lebih stabil sehingga kamu tetap percaya diri menjalani hari tanpa terus terganggu rasa lapar yang mengintervensi mood. Selain lengkap dan aman, WRP Meal Replacement juga praktis sehingga memudahkan kamu membawanya kemana saja, entah itu ke kantor atau liburan keluarga. Kamu bisa tetap berkomitmen diet tanpa harus repot menyiapkan makanan setiap saat. 

Rasa lapar yang muncul saat defisit kalori adalah respons biologis yang wajar dan bisa dijelaskan lewat perubahan hormon leptin dan ghrelin. Bukan berarti kamu gagal, hanya saja tubuh butuh strategi yang lebih cerdas. Perbanyak protein, cukupi serat, jaga tidur, kelola stres, dan kalau perlu manfaatkan susu diet sebagai pengganti makan di waktu yang paling menantang seperti sarapan atau makan malam. Dengan begitu proses menurunkan berat badan bisa berjalan lebih realistis, kamu tetap bebas bergerak, dan yang paling penting rasa percaya diri kamu tetap terjaga sepanjang perjalanan diet ini. So Ladies, let’s unlock your confidence!.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Astbury, N. M., Piernas, C., Hartmann-Boyce, J., Lapworth, S., Aveyard, P., & Jebb, S. A. (2019). A systematic review and meta-analysis of the effectiveness of meal replacements for weight loss. Obesity Reviews, 20(4), 569–587. https://doi.org/10.1111/obr.12816

Dote-Montero, M., et al. (2025). Fasting appetite-related gut hormone responses after weight loss induced by calorie restriction, exercise, or both in people with overweight or obesity: a meta-analysis. International Journal of Obesity. https://doi.org/10.1038/s41366-025-01726-4

Fromentin, G., Darcel, N., Chaumontet, C., Marsset-Baglieri, A., Nadkarni, N., & Tomé, D. (2012). Dietary protein – its role in satiety, energetics, weight loss and health. British Journal of Nutrition. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23107521/

Leidy, H. J., Clifton, P. M., Astrup, A., Buckley, J. D., Turnbull, W. H., Ortinau, L. C., Stern, J. S., Hill, J. O., & Mattes, R. D. (2015). The role of protein in weight loss and maintenance. The American Journal of Clinical Nutrition, 101(6), 1320S–1329S. https://doi.org/10.3945/ajcn.114.084038

Salleh, S. N., Fairus, A. A. H., Zahary, M. N., Bhaskar Raj, N., & Mhd Jalil, A. M. (2019). Unravelling the effects of soluble dietary fibre supplementation on energy intake and perceived satiety in healthy adults: Evidence from systematic review and meta-analysis of randomised-controlled trials. Foods, 8(1), 15. https://doi.org/10.3390/foods8010015

Sumithran, P., Prendergast, L. A., Delbridge, E., Purcell, K., Shulkes, A., Kriketos, A., & Proietto, J. (2011). Long-term persistence of hormonal adaptations to weight loss. New England Journal of Medicine, 365(17), 1597–1604. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1105816

Tufts University. (2026, June 25). The hormones that control your appetite. Tufts Now. https://now.tufts.edu/2026/06/25/hormones-control-your-appetite

Article Lainnya