“Eh, ini pakai micin lho, hati-hati.” Mendadak suapan berikutnya terasa ragu bahkan bisa terhentak sejenak. Kamu jadi menimbang-nimbang “lanjut atau berhenti?”.
Tenang, kamu tidak sendirian. Hampir semua orang pernah berada di posisi itu. MSG, atau yang sehari-hari kita sebut micin, sudah puluhan tahun dibicarakan. Ada yang bilang bikin pusing, bikin lemot, bahkan bikin gemuk. Padahal sebelum menghakimi, ada baiknya kita kenalan dulu dengan si bumbu gurih ini, supaya kamu bisa memilih camilan sehat dan makanan harian dengan percaya diri, tanpa rasa was-was yang tidak perlu.
Yuk, kita bedah bareng-bareng.
Kenalan Dulu: Apa Itu MSG?

MSG singkatan dari monosodium glutamate, yaitu garam natrium dari asam glutamat. Asam glutamat sendiri adalah asam amino yang ada secara alami di tubuh kita dan juga di banyak bahan pangan. Kamu bisa menemukannya pada tomat, kecap, dan keju tertentu (European Food Safety Authority [EFSA], 2017).
Ceritanya bermula lebih dari seratus tahun lalu. Seorang ilmuwan Jepang, Kikunae Ikeda, meneliti kaldu rumput laut kombu dan menemukan bahwa rasa gurih yang dalam itu berasal dari glutamat. Rasa itu ia namai umami, rasa dasar kelima setelah manis, asin, asam, dan pahit. Sejak itu, glutamat dibuat dalam bentuk bumbu yang kini kita kenal sebagai MSG.
Jadi, setiap kali kamu menyeruput kuah bakso yang gurih, menikmati tomat matang, atau menyantap keju parut di atas pasta, tubuhmu sebenarnya sudah akrab dengan glutamat. Tubuh kita menyerap glutamat di usus, dan sebagian besar langsung diolah di dinding usus itu sendiri (EFSA, 2017). Artinya, glutamat dari bumbu dan glutamat dari bahan pangan alami diperlakukan tubuh dengan cara yang sama.
Apa Kata Penelitian tentang Keamanannya?
Inilah bagian yang paling sering bikin orang penasaran. Mari kita lihat bukti ilmiahnya, tanpa melebih-lebihkan ke satu arah mana pun.
Pertama, penilaian lembaga keamanan pangan Eropa. Pada 2017, EFSA menilai ulang seluruh keluarga glutamat (E 620 sampai E 625). Hasilnya, tidak ditemukan efek merugikan dalam studi jangka pendek, subkronis, kronis, reproduksi, maupun perkembangan, dan glutamat tidak menimbulkan kekhawatiran genotoksisitas. Dari data tersebut, EFSA menetapkan batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) sebesar 30 mg per kilogram berat badan per hari, dihitung sebagai asam glutamat (EFSA, 2017).
Untuk memudahkan bayanganmu, batas itu adalah batas aman. Selama asupan berada di bawahnya, risikonya dinilai tidak mengkhawatirkan. EFSA juga mencatat bahwa pada sebagian kelompok penduduk, perkiraan asupan glutamat dari makanan olahan bisa melampaui batas tersebut (EFSA, 2017). Pesannya jelas ya Ladies, kita harus tetap jaga porsi dan jenis makanan.
Kedua, tinjauan ilmiah tentang klaim bahaya MSG. Zanfirescu et al. (2019) mengulas studi praklinis dan uji klinis tentang dugaan efek buruk MSG. Studi pada hewan memang mengaitkan pemberian MSG dengan gangguan jantung, hati, saraf, peradangan ringan, dan perubahan metabolisme. Namun para peneliti menemukan sejumlah kelemahan metode, sehingga hasil tersebut dinilai kurang relevan jika diterapkan pada asupan MSG manusia lewat makanan sehari-hari. Laporan tentang sensitivitas terhadap MSG, nyeri, dan dermatitis atopik juga dinilai minim dukungan bukti (Zanfirescu et al., 2019).
Kesimpulan yang bisa kita tarik dengan jujur: MSG termasuk bahan yang sudah banyak diteliti, dan dalam jumlah wajar bukti yang ada tidak mendukung ketakutan yang selama ini beredar. Di sisi lain, pada dosis tinggi, EFSA mencatat efek seperti sakit kepala, kenaikan tekanan darah, dan peningkatan kadar insulin pada manusia (EFSA, 2017). Jadi sikap paling bijak adalah tidak panik, tetapi juga tidak berlebihan.
MSG, Garam, dan Natrium

Ada fakta menarik yang jarang dibahas. Karena namanya mengandung “sodium”, banyak orang mengira MSG sama saja dengan garam. Padahal kandungan natrium MSG hanya sekitar sepertiga dari garam dapur, yaitu sekitar 12% dibanding 39% (Maluly et al., 2017).
Karena rasa umami mampu memperkuat kesan gurih, para peneliti mengkaji MSG sebagai salah satu cara menurunkan natrium pada makanan olahan tanpa membuat rasanya hambar (Maluly et al., 2017).
Tetapi ada sisi lain yang tidak kalah penting. Natrium dari seluruh makanan yang kamu santap sepanjang hari tetap menumpuk. Keripik, mi instan, saus kemasan, dan gorengan bumbu sering menyumbang natrium lebih banyak dari yang kita sadari. Jadi, apakah sebuah camilan memakai MSG atau tidak, ada satu pertanyaan lain yang layak kamu ajukan: seberapa tinggi kandungan natriumnya?
Mitos yang Sering Bikin Kita Ragu

“Micin bikin lemot.” Tidak ada bukti ilmiah kuat yang menyokong anggapan ini pada manusia yang mengonsumsi MSG lewat makanan sehari-hari. Studi hewan yang sering dikutip punya keterbatasan metode yang cukup besar (Zanfirescu et al., 2019).
“Micin bikin pusing.” Efek seperti sakit kepala memang pernah dilaporkan pada dosis tinggi (EFSA, 2017), sedangkan laporan sensitivitas pada porsi makan biasa dinilai kurang didukung bukti (Zanfirescu et al., 2019). Kalau kamu merasa tidak nyaman setelah makan makanan tertentu, catat polanya dan konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter.
“Micin itu zat kimia berbahaya.” Glutamat adalah senyawa yang hadir alami di tubuh dan banyak bahan pangan. Yang menentukan aman atau tidaknya adalah jumlah, bukan asal-usul.
Jadi, Perlu Menghindari MSG Sama Sekali?
Jawaban jujurnya, tidak harus. Kalau kamu menyukai masakan dengan sedikit MSG dan asupanmu wajar, bukti ilmiah yang ada tidak menyuruhmu cemas. Namun ada banyak orang yang memang ingin mengurangi bumbu penguat rasa, entah karena preferensi pribadi, ingin lebih terkendali memilih bahan, atau sekadar ingin merasakan gurih dari bahan aslinya. Pilihan itu sah-sah saja.
Yang paling penting adalah kamu merasa tenang dan percaya diri dengan apa yang masuk ke piringmu. Kamu berhak bebas bergerak, bebas beraktivitas, dan bebas menikmati hari tanpa dihantui rasa bersalah setiap kali ingin ngemil. Namun memang asupan MSG dan natrium harian itu harus tetap dibatasi.
Kalau Ingin Camilan Sehat yang Tetap Gurih Tanpa MSG

Nah, di titik inilah banyak perempuan akhirnya bertanya: adakah camilan sehat yang tetap gurih, renyah, dan memuaskan, tetapi tanpa penguat rasa?
Jawabannya ada yaitu WRP Delichips Mix Roots, nama baru dari Delichips Salt & Pepper. Camilan ini hadir dalam 2 ukuran berbeda, jadi bisa kamu nikmati saat nyemil sendirian sambil menonton serial favorit, atau saat kumpul bersama orang-orang terdekat.
Kenapa WRP Delichips Mix Roots layak masuk daftar camilan sehat kamu?
- Terbuat dari umbi-umbian asli, Ada ubi kayu (singkong), ubi ungu, talas, ubi kuning, dan ubi putih dalam satu kemasan. Campuran umbi ini membuat setiap keping punya karakter rasa yang kaya.
- Tanpa penguat rasa, WRP Delichips tidak menggunakan MSG, cocok untuk kamu yang ingin gurih dengan lebih tenang.
- Rendah natrium, rasanya tetap asin dan gurih namun kandungan natriumnya rendah, selaras dengan upaya menjaga asupan natrium harian agar tetap terkendali. Ini penting untuk kesehatan tekanan darah.
- Tinggi serat, serat membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, sehingga kamu tidak gampang tergoda mengemil berlebihan.
- Gurih dan renyah, camilan sehat tidak harus membosankan. Setiap gigitan tetap terasa memuaskan.
Bayangkan sore hari saat kamu sedang sibuk bekerja atau berkegiatan, lalu perut mulai keroncongan. Dengan camilan sehat yang kaya serat di dalam tas, kamu tidak perlu mencari gorengan di pinggir jalan. Kamu bisa lanjut beraktivitas, tetap bebas bergerak, dan tetap percaya diri dengan pilihanmu.
Tips Praktis dari Ahli Gizi
- Baca label kemasan: Perhatikan daftar bahan dan kandungan natrium, terutama pada camilan asin, mi instan, dan saus kemasan.
- Perbanyak bumbu alami: Bawang, jahe, daun jeruk, dan rempah memberi rasa tanpa harus bergantung pada penguat rasa.
- Perhatikan porsi: Sekalipun sebuah camilan sehat, jumlahnya tetap perlu dijaga.
- Imbangi dengan sayur, buah, dan air putih: Piring yang seimbang selalu lebih berpengaruh daripada satu bahan tunggal.
- Dengarkan tubuhmu: Kalau ada makanan yang membuatmu kurang nyaman, catat dan diskusikan dengan tenaga kesehatan.
Tenang Itu Terasa Lebih Enak
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan memberi kita pegangan: MSG sudah diteliti luas, dan dalam jumlah wajar bukti yang ada tidak mendukung ketakutan yang beredar. Meski begitu, kamu tetap punya hak penuh memilih camilan sehat yang membuatmu merasa nyaman. Entah itu dengan MSG secukupnya, atau tanpa MSG sama sekali seperti WRP Delichips Mix Roots.
Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan cemas di depan label makanan. Pilih yang kamu yakini, nikmati dengan senang hati, lalu lanjutkan harimu dengan bebas bergerak dan percaya diri.
Semua produk WRP lengkap dan aman dikonsumsi setiap hari. Kamu bisa dapatkan produk WRP di E-Commerce kesayangan kamu. So Ladies, let’s unlock your confidence!
Daftar Pustaka
European Food Safety Authority Panel on Food Additives and Nutrient Sources added to Food (ANS), Mortensen, A., Aguilar, F., Crebelli, R., Di Domenico, A., Dusemund, B., Frutos, M. J., Galtier, P., Gott, D., Gundert-Remy, U., Lambré, C., Leblanc, J.-C., Lillegaard, I. T., Moldeus, P., Mosesso, P., Parent-Massin, D., Oskarsson, A., Stankovic, I., Waalkens-Berendsen, I., … Younes, M. (2017). Re-evaluation of glutamic acid (E 620), sodium glutamate (E 621), potassium glutamate (E 622), calcium glutamate (E 623), ammonium glutamate (E 624) and magnesium glutamate (E 625) as food additives. EFSA Journal, 15(7), Article e04910. https://doi.org/10.2903/j.efsa.2017.4910
Maluly, H. D. B., Arisseto-Bragotto, A. P., & Reyes, F. G. R. (2017). Monosodium glutamate as a tool to reduce sodium in foodstuffs: Technological and safety aspects. Food Science & Nutrition, 5(6), 1039–1048. https://doi.org/10.1002/fsn3.499
Zanfirescu, A., Ungurianu, A., Tsatsakis, A. M., Nițulescu, G. M., Kouretas, D., Veskoukis, A., Tsoukalas, D., Engin, A. B., Aschner, M., & Margină, D. (2019). A review of the alleged health hazards of monosodium glutamate. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, 18(4), 1111–1134. https://doi.org/10.1111/1541-4337.12448





