{"id":7788,"date":"2026-07-20T18:51:32","date_gmt":"2026-07-20T11:51:32","guid":{"rendered":"https:\/\/wrp.co.id\/?p=7788"},"modified":"2026-07-20T11:47:09","modified_gmt":"2026-07-20T04:47:09","slug":"resep-brownies-legit-yang-diet-friendly","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/resep-brownies-legit-yang-diet-friendly\/","title":{"rendered":"Resep Brownies Legit yang Diet Friendly Tanpa Bikin Gula Darah Melonjak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah orang dengan <a href=\"https:\/\/wrp.co.id\/en\/ternyata-obesitas-bukan-cuma-karena-makan-berlebih\/\">obesitas<\/a> dan diabetes masih boleh makan makanan manis? Jawabannya, tentu saja boleh asal cara membuat dan bahan pembuatannya dimodifikasi kembali. Brownies identik dengan tepung terigu putih, gula pasir dalam jumlah banyak, dan mentega yang berlebihan, kombinasi ini jelas kurang bersahabat untuk gula darah dan berat badan kita. Tapi dengan memodifikasi bahan yang digunakan, camilan cokelat favorit banyak orang ini bisa diubah jadi hal yang jauh lebih aman untuk tubuh, tanpa kehilangan rasa creamy dan nikmatnya cokelat yang bikin nagih.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa Brownies Versi Klasik Perlu Dimodifikasi?<\/b><\/h2>\n<h2><b><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-7790\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/2-246x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"246\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/2-246x300.jpeg 246w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/2-10x12.jpeg 10w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/2.jpeg 736w\" sizes=\"(max-width: 246px) 100vw, 246px\" \/>\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepung terigu memiliki indeks glikemik yang tinggi, bahkan satu potong roti putih saja bisa indeks glikemiknya sekitar 74-76 yang berarti makanan seperti ini punya potensi tinggi untuk memicu lonjakan gula darah. Untuk seseorang dengan diabetes tipe 2, konsumsi rutin makanan tinggi indeks glikemik bisa membebani kerja insulin dan lama kelamaan memperberat resistensi insulin. Ditambah lagi, resep brownies konvensional biasanya rendah serat, padahal serat punya peran besar dalam mengendalikan gula darah. Riset yang dipublikasikan di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">New England Journal of Medicine<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menunjukkan bahwa asupan serat tinggi, khususnya jenis larut, di atas rekomendasi standar terbukti dapat membantu kontrol glikemik, menurunkan hiperinsulinemia, dan menekan kadar lipid plasma pada penderita diabetes tipe 2. Artinya, kunci membuat brownies jadi lebih layak dikonsumsi penderita\u00a0 obesitas dan diabetes terletak pada dua hal: menurunkan beban glikemiknya dan menaikkan kandungan seratnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Modifikasi Bahan yang Bikin Brownies Lebih Aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah pertama adalah mengganti tepung terigu dengan tepung rendah indeks glikemik seperti tepung oat. Oat memiliki indeks glikemik di bawah 15, jauh lebih rendah dibanding tepung terigu, dan bisa disubstitusi dengan rasio 1:1 terhadap tepung terigu biasa, meski umumnya perlu tambahan pengikat seperti telur agar teksturnya tetap kompak. Tepung oat juga bisa jadi campuran karena kandungan beta-glukannya, serat larut yang dikenal efektif meredam lonjakan gula darah setelah makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk pemanis, gula pasir bisa digantikan dengan eritritol atau stevia. Eritritol punya indeks glikemik nol dan hampir tidak memengaruhi kadar insulin, bahkan pada dosis oral 20 gram sekalipun studi menunjukkan sweetener ini tidak meningkatkan glukosa darah maupun kadar insulin baik pada individu sehat maupun penderita diabetes. Meski begitu, penggunaannya tetap perlu dalam jumlah wajar, mengingat ada penelitian observasional terbaru yang mengaitkan kadar eritritol tinggi dalam darah dengan risiko kardiovaskular, sehingga moderasi tetap jadi kata kunci.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-7776\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-300x111.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"111\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-300x111.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-1024x381.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-768x285.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-1536x571.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-2048x761.png 2048w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-18x7.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-1320x491.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-750x279.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/New-Sachet-Choco-Cookies-30gr-2-1140x424.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah salah satu bahan pelengkap bisa ditambahkan yaitu <\/span><a href=\"https:\/\/s.shopee.co.id\/8phT1kNLLy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>WRP <\/b><b><i>Chocolate Cookies<\/i><\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Cookies ini bebas gula dan tinggi serat. Caranya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ladies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa hancurkan <\/span><a href=\"https:\/\/s.shopee.co.id\/8phT1kNLLy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b>WRP <\/b><b><i>Chocolate Cookies<\/i><\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai campuran adonan atau taburan di atas brownies sebelum dipanggang. <\/span><b><i>Ladies<\/i><\/b><b> bisa dapatkan produk WRP di<\/b><a href=\"https:\/\/s.shopee.co.id\/8phT1kNLLy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><b><i> E-Commerce<\/i><\/b><\/a><b> kesayangan kamu. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menambah sensasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crunchy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan rasa cokelat yang lebih <\/span><b>bold<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, remahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cookies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini juga ikut menyumbang asupan serat harian tanpa menambahkan gula pada adonan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Resep Brownie Diet Friendly<\/b><\/h2>\n<h4><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-7792\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/3-225x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"225\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/3-225x300.jpeg 225w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/3-9x12.jpeg 9w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/3.jpeg 736w\" sizes=\"(max-width: 225px) 100vw, 225px\" \/><\/h4>\n<h4><b>Bahan (untuk 12 potong):<\/b><\/h4>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">150 gram tepung oat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">30 gram bubuk kakao tanpa gula<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">100 gram eritritol atau stevia<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">2 butir telur ukuran besar<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">60 ml minyak zaitun cair<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">1 sendok teh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">baking powder<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">1\/2 sendok teh garam<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">4-5 keping WRP <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Chocolate Cookies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dihancurkan kasar<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h4><b>Cara membuat:<\/b><\/h4>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Panaskan oven pada suhu 175\u00b0C, olesi loyang persegi dengan minyak kelapa tipis.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kocok telur dan stevia hingga sedikit mengembang dan berwarna pucat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Masukkan minyak kelapa, aduk rata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ayak tepung oat, bubuk kakao, baking powder, dan garam, lalu masukkan ke campuran telur secara bertahap sambil diaduk lipat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tuang setengah remahan WRP <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cookies Chocolate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke adonan, aduk sebentar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tuang adonan ke loyang, ratakan, taburi sisa remahan cookies di permukaan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Panggang selama 20-22 menit, keluarkan saat bagian tengah masih sedikit lembap agar tekstur brownies tetap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fudgy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dinginkan sebelum dipotong menjadi 12 bagian.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><b>Hasil kalkulasi per 1 potong (total resep dibagi 12):<\/b><\/h2>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><b>Zat Gizi<\/b><\/td>\n<td><b>Klasik<\/b><\/td>\n<td><b>Modifikasi<\/b><\/td>\n<td><b>Selisih<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Kalori<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">134,2 kkal<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">125,7 kkal<\/span><\/td>\n<td><b>turun 6,3%<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Karbohidrat<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">19,41 g<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">9,57 g<\/span><\/td>\n<td><b>turun 50,7%<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Protein<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">3,39 g<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">4,87 g<\/span><\/td>\n<td><b>naik 43,7%<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Lemak<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">5,37 g<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">8,38 g<\/span><\/td>\n<td><b>naik 56%<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">Serat<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">1,16 g<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400;\">2,54 g<\/span><\/td>\n<td><b>naik 119%<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu potong <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brownies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini punya jumlah kalori, gula, karbohidrat yang jauh lebih rendah namun kandungan serat yang lebih tinggi dibanding <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brownies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biasanya. Tapi perlu ingat ya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ladies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, porsi tetap harus diperhatikan meski bahannya sudah dimodifikasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Peran Serat dan Gula Dalam Aktivitas dan Kepercayaan Diri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obesitas dan diabetes masih menjadi masalah kesehatan yang sering ditemui. Riset dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fukuoka Diabetes Registry<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada lebih dari 4.000 pasien diabetes tipe 2 di Jepang menemukan bahwa asupan serat berkaitan dengan kontrol glikemik yang lebih baik dan profil risiko kardiovaskular yang lebih menguntungkan, termasuk penurunan prevalensi obesitas abdominal. Serat memang jadi salah satu komponen penting, tapi ia bekerja optimal saat berjalan beriringan dengan gaya hidup aktif. Jika tubuhmu rutin dilatih untuk bebas bergerak lewat aktivitas fisik seperti jalan cepat, jogging ringan, atau olahraga favorit lainnya, semakin baik pula sensitivitas insulin dan pengelolaan berat badan jangka panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Camilan seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brownies<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> versi modifikasi ini bisa jadi bagian dari strategi makan yang lebih fleksibel, di mana seseorang dengan obesitas dan diabetes tidak harus merasa serba terbatas. Ketika seseorang tahu persis apa yang ia makan, tahu kandungan gizinya, dan paham cara menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik, rasa percaya diri dalam menjalani pola makan sehat pun ikut tumbuh. Percaya diri ini penting, karena pengelolaan d obesitas dan diabetes adalah perjalanan panjang, bukan program instan semalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serat membantu memperlambat pencernaan karbohidrat, memberi rasa kenyang lebih lama, dan akhirnya bisa memabntu tubuh untuk tetap bebas bergerak tanpa terganggu fluktuasi gula darah yang drastis. <\/span><b><i>So Ladies, let\u2019s unlock your confidence!.<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1><b>Daftar Pustaka<\/b><\/h1>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Chandalia, M., Garg, A., Lutjohann, D., von Bergmann, K., Grundy, S. M., &amp; Brinkley, L. J. (2000). Beneficial effects of high dietary fiber intake in patients with type 2 diabetes mellitus. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">New England Journal of Medicine<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">342<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(19), 1392\u20131398. https:\/\/doi.org\/10.1056\/NEJM200005113421903<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Simpson, E. J., Mendis, B., Dunlop, M., Schroeter, H., Kwik-Uribe, C., &amp; Macdonald, I. A. (2023). Cocoa flavanol supplementation and the effect on insulin resistance in females who are overweight or obese: A randomized, placebo-controlled trial. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nutrients<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">15<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(3), 565. https:\/\/doi.org\/10.3390\/nu15030565<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">World Journal of Diabetes. (2024). Increasing dietary fiber intake for type 2 diabetes mellitus management: A systematic review. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">World Journal of Diabetes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">15<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(5), 1001\u20131015. https:\/\/www.wjgnet.com\/1948-9358\/full\/v15\/i5\/1001.htm<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yamada, Y., et al. (2014). Impact of dietary fiber intake on glycemic control, cardiovascular risk factors and chronic kidney disease in Japanese patients with type 2 diabetes mellitus: The Fukuoka Diabetes Registry. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nutrition Journal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">13<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, 5. https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC3878841\/<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Regnault, W., et al. (2022). Metabolic effects and safety aspects of acute D-allulose and erythritol administration in healthy subjects. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nutrients<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">14<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(3), 566. https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pmc\/articles\/PMC9863415\/<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bezzy T2D. (2023, December 14). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 flour options for cooking and baking with diabetes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. https:\/\/www.bezzyt2d.com\/discover\/diet-and-nutrition-t2d\/health-flour-options\/<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah orang dengan obesitas dan diabetes masih boleh makan makanan manis? Jawabannya, tentu saja boleh asal cara membuat dan bahan pembuatannya dimodifikasi kembali. Brownies identik dengan tepung terigu putih, gula pasir dalam jumlah banyak, dan mentega yang berlebihan, kombinasi ini jelas kurang bersahabat untuk gula darah dan berat badan kita. Tapi dengan memodifikasi bahan yang &#8230; <a title=\"Resep Brownies Legit yang Diet Friendly Tanpa Bikin Gula Darah Melonjak\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/wrp.co.id\/en\/resep-brownies-legit-yang-diet-friendly\/\" aria-label=\"Read more about Resep Brownies Legit yang Diet Friendly Tanpa Bikin Gula Darah Melonjak\">Read more<\/a><\/p>","protected":false},"author":6,"featured_media":7789,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-7788","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-everyday"],"acf":[],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-07-28 22:43:01","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7788","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7788"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7788\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7793,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7788\/revisions\/7793"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7789"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7788"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7788"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7788"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}