{"id":5884,"date":"2025-02-04T08:00:00","date_gmt":"2025-02-04T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/wrp.co.id\/?p=5884"},"modified":"2025-03-07T11:05:32","modified_gmt":"2025-03-07T04:05:32","slug":"ini-dia-5-makanan-pemicu-kanker","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/ini-dia-5-makanan-pemicu-kanker\/","title":{"rendered":"Ini Dia 5 Makanan Pemicu Kanker!"},"content":{"rendered":"<p><em>Ladies<\/em>, mungkin kamu pernah mendengar bahwa beberapa makanan tertentu dapat menyebabkan kanker.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa sajakah makanan pemicu kanker itu? Apakah benar mengonsumsinya dapat menyebabkan kanker? Cari tahu faktanya yuk!<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi, sebelum membahas lebih jauh mengenai makanan penyebab kanker, ketahui dulu apa sih yang dimaksud kanker?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Seputar Kanker<\/strong><\/h2>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"667\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5888\" style=\"width:576px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited.jpg 1000w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited-300x200.jpg 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited-768x512.jpg 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited-18x12.jpg 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/2148283514-edited-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Kanker merupakan penyebab kematian kedua di seluruh dunia, dimana terdapat hampir 10 juta kematian di dunia disebabkan oleh <a href=\"https:\/\/wrp.co.id\/en\/mengenal-8-jenis-kanker-anak-dan-gejalanya\/\">kanker<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia sendiri, menurut data <em>Global Cancer Observatory<\/em> (Globocan), pada tahun 2022, terdapat 408.661 kasus kanker baru di Indonesia, dimana sebanyak 242.099 di antaranya mengalami kematian, terutama disebabkan oleh kanker payudara, leher rahim, paru-paru, dan kolorektal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kanker adalah suatu kondisi penyakit yang terjadi ketika terdapat pertumbuhan sel-sel tubuh yang tidak normal dan berkembang menjadi sel kanker, serta bisa menyebar ke bagian organ tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Penyebab Kanker<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Kanker merupakan kelainan genetik, yang terjadi ketika gen yang mengatur aktivitas sel berubah atau mengalami mutasi. Gen tersebut menciptakan sel abnormal yang kemudian berkembang dan akhirnya mengganggu cara kerja tubuh. Sel-sel kanker ini kemudian membentuk tumor yang bisa menyebar ke area atau organ tubuh lainnya melalui aliran darah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dilansir dari <em>Cleveland Clinic<\/em>, penyebab kanker tidak diketahui pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker, di antaranya seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Riwayat keluarga<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Seseorang yang memiliki keluarga (orang tua, saudara kandung, kakek, nenek) yang menderita kanker akan memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Paparan asap rokok<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Rokok mengandung berbagai bahan kimia yang bersifat karsinogenik (zat yang dapat menyebabkan kanker). Ada lebih dari 60 karsinogen yang terdapat di dalam rokok, termasuk di antaranya hidrokarbon aromatic polisiklik, N-nitrosamin, amina aromatic, aldehida, dll. Bukan hanya bagi perokok aktif (orang yang aktif merokok), asap rokok juga dapat meningkatkan risiko perokok pasif (orang yang terkena paparan asap rokok) untuk terkena kanker.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Faktor lingkungan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Paparan polusi dan racun dari lingkungan, seperti asbestos, pestisida dan radon dapat meningkatkan risiko kanker.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Gaya hidup<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kebiasaan buruk seperti kebiasaan konsumsi alkohol berlebihan, pola makan tidak sehat (konsumsi makanan tinggi lemak dan gula), kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kanker.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Paparan radiasi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Paparan radiasi ultraviolet dari sinar matahari dapat meningkatkan risiko kanker kulit.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Saja Makanan Pemicu Kanker?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Beberapa jenis makanan dapat meningkatkan risiko kanker, di antaranya termasuk:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Daging olahan<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"1620\" height=\"1080\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5895\" style=\"width:561px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1.png 1620w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-300x200.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-1024x683.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-768x512.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-1536x1024.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-18x12.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-1320x880.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-750x500.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-25-edited-1-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1620px) 100vw, 1620px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Daging olahan merupakan jenis daging apa pun yang telah diproses dan diawetkan dengan pengasapan, pengasinan, pengawetan, atau pengalengan. Sebagian besar dibuat dari daging merah. Beberapa contoh daging olahan seperti hot dog, salami, sosis, ham, kornet, dsb.<\/p>\n\n\n\n<p>Metode yang digunakan untuk membuat daging olahan dapat menghasilkan karsinogen (zat yang menyebabkan kanker). Contohnya, pada pengawetan daging dengan nitrit dapat membentuk karsinogen yang disebut senyawa N-nitroso, atau pengasapan daging yang menyebabkan pembentukan hidrokarbon aromatik polisiklik yang bersifat karsinogenik.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan yag tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah kanker, seperti kanker kolorektal, kanker lambung, dan kanker payudara.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>2. Makanan yang digoreng<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img decoding=\"async\" width=\"1620\" height=\"1080\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5896\" style=\"width:562px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited.png 1620w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-300x200.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-1024x683.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-768x512.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-1536x1024.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-18x12.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-1320x880.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-750x500.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-28-edited-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1620px) 100vw, 1620px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Makanan tertentu yang diolah dengan cara digoreng dengan suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa kimia yang dikenal sebagai akrilamida. Ini bisa terjadi ketika makanan digoreng, dipanggang, atau dibakar dengan suhu tinggi. Terutama makanan berpati yang digoreng, biasanya cenderung tinggi akrilamida, seperti kentang goreng atau keripik kentang.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut penelitian yang dilakukan pada tikus, akrilamida memiliki sifat karsinogenik. Selain itu, <em>International Agency for Research on Cancer<\/em> (IARC) mengkategorikan akrilamida sebagai \u201c<em>probably carcinogenic to human<\/em>\u201d yang berarti senyawa ini berpotensi menyebabkan kanker pada manusia. Selain itu, akrilamida diketahui dapat menyebabkan kerusakan DNA dan memicu apoptosis atau kematian sel.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Kondisi ini bisa menyebabkan stress oksidatif dan peradangan, yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3. Gula dan karbohidrat olahan<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1620\" height=\"1080\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5897\" style=\"width:583px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited.png 1620w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-300x200.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-1024x683.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-768x512.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-1536x1024.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-18x12.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-1320x880.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-750x500.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-26-edited-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1620px) 100vw, 1620px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko <a href=\"https:\/\/wrp.co.id\/en\/pemanis-aspartam-picu-kanker-cek-faktanya-yuk\/\">kanker<\/a> secara tidak langsung. Hal ini karena asupan makanan tinggi gula dan bertepung yang berlebihan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena obesitas dan diabetes tipe 2.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan penelitian, kedua kondisi ini dapat memicu peradangan dan stress oksidatif, yang dapat meningkatkan risiko kanker. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko terkena kanker ovarium, payudara dan endometrium (rahim).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>4. Makanan gosong<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1620\" height=\"1080\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5898\" style=\"width:549px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited.png 1620w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-300x200.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-1024x683.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-768x512.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-1536x1024.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-18x12.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-1320x880.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-750x500.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-27-edited-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1620px) 100vw, 1620px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Saat memasak makanan terutama daging, sebaiknya tidak terlalu lama, apalagi hingga gosong, sebab bisa menghasilkan karsinogen yang dapat memicu kanker. Menurut penelitian, daging yang dimasak dengan suhu tinggi dapat menghasilkan PAH (<em>polycyclic aromatic hydrocarbon<\/em>) dan HCA (<em>heterocyclic amines<\/em>) yang bersifat karsinogenik.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan itu saja, dilansir dari <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/makanan-gosong-sebabkan-kanker-mitos-atau-fakta?srsltid=AfmBOopF_QAVn5v72vU9qtNiizrHGhDM0MFwjFDHByHakv8AgSFgKWeO\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Halodoc<\/a>, makanan yang dimasak dengan suhu tinggi bisa membentuk akrilamida yang bersifat toksik dan karsinogenik. Ketika masuk ke tubuh, akrilamida dapat berubah menjadi glikidamida yang bisa merusak DNA, sehingga menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan mengakibatkan kanker.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>5. Alkohol<\/strong><\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1620\" height=\"1080\" src=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-5899\" style=\"width:548px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited.png 1620w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-300x200.png 300w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-1024x683.png 1024w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-768x512.png 768w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-1536x1024.png 1536w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-18x12.png 18w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-1320x880.png 1320w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-750x500.png 750w, https:\/\/wrp.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Desain-tanpa-judul-29-edited-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1620px) 100vw, 1620px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Hati merupakan organ yang bertugas untuk memetabolisme alkohol. Ketika mengonsumsi <a href=\"https:\/\/wrp.co.id\/en\/konsumsi-alkohol-menghambat-kamu-mencapai-fitness-goals\/\">alkohol<\/a>, hati akan memecah alkohol menjadi asetaldehida, yang merupakan senyawa karsinogenik.<\/p>\n\n\n\n<p>Asetaldehida bisa memicu kerusakan DNA dan mengakibatkan stress oksidatif. Lebih parahnya, asetaldehida juga bisa mengganggu fungsi kekebalan tubuh, yang membuat tubuh kesulitan untuk menargetkan sel prakanker dan sel kanker.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan kadar estrogen pada wanita, yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara reseptor estrogen positif. Kanker payudara reseptor estrogen positif (ER+) merupakan subtipe kanker payudara. Kanker ini terjadi ketika kadar estrogen yang tinggi dalam sel kanker payudara membantu kanker tumbuh dan menyebar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Adakah Makanan untuk Menurunkan Risiko Kanker?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Disamping ada beberapa jenis makanan yang dapat memicu kanker, ada pula beberapa makanan yang dapat menurunkan risiko kanker, terutama makanan yang kaya akan antioksidan dan serat.<\/p>\n\n\n\n<p>Buah-buahan dan sayuran dikenal kaya akan antioksidan dan serat. Kandungan antioksidan di dalam sayur dan buah dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari stress oksidatif dan kerusakan DNA yang dapat diakibatkan oleh paparan radikal bebas.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa contoh antioksidan yang berperan dalam penurunan risiko kanker diantaranya seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Beta karoten<\/strong>: buah dan sayur berwarna kuning dan oranye, sayuran berdaun hijau<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Likopen<\/strong>: tomat, semangka, aprikot, peach<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Lutein<\/strong>: sayuran berdaun hijau<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Sementara itu, penelitian menunjukkan bahwa serat dapat memberikan efek perlindungan terhadap berbagai jenis kanker, termasuk kanker usus, lambung, payudara, ovarium dan pankreas.<\/p>\n\n\n\n<p>Serat dapat meningkatkan volume feses dan mengurangi waktu transit feses, sehingga mengencerkan konsentrasi karsinogenik di usus besar dan mengurangi waktu paparan karsinogen pada usus. Serat juga dapat mengurangi kadar kolesterol yang berkaitan dengan risiko kanker usus besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan itu saja, serat juga dapat membantu dalam pengendalian berat badan dan menjaga kadar gula darah tetap stabil. Ini dapat mencegah seseorang mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 yang berkaitan dengan risiko kanker yang lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain terdapat pada buah dan sayur, serat juga terdapat pada kacang-kacangan dan biji-bijian. Kita dianjurkan untuk mengonsumsi sekitar 30 g serat sehari.<\/p>\n\n\n\n<p>Disamping serat dan antioksidan, omega-3 yang umumnya terdapat pada ikan juga diketahui dapat membantu menurunkan risiko kanker dengan menurunkan kadar kolesterol. Omega-3 termasuk ke dalam jenis lemak tak jenuh atau yang dikenal sebagai lemak sehat, karena dapat membantu dalam meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ladies<\/em>, mengetahui jenis makanan yang dapat memicu kanker seperti yang telah disebutkan di atas semoga dapat membantumu lebih bijak dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengurangi risiko kanker, cobalah untuk membatasi konsumsi daging olahan, makanan yang digoreng, gula dan karbohidrat olahan, makanan yang dimasak dengan suhu tinggi atau gosong, dan alkohol. Fokuslah pada pola makan dan gaya hidup yang sehat, termasuk memperbanyak konsumsi makanan kaya serat, antioksidan, dan omega-3, serta berolahraga secara teratur.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Aghajanpour, M., Nazer, M. R., Obeidavi, Z., Akbari, M., Ezati, P., &amp; Kor, N. M. (2017). Functional foods and their role in cancer prevention and health promotion: a comprehensive review.&nbsp;<em>American journal of cancer research<\/em>,&nbsp;<em>7<\/em>(4), 740\u2013769. <a href=\"https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC5411786\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/pmc.ncbi.nlm.nih.gov\/articles\/PMC5411786\/<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Better Health Channel. (2023). <em>Cancer and Food<\/em>. <a href=\"https:\/\/www.betterhealth.vic.gov.au\/health\/conditionsandtreatments\/cancer-and-food\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.betterhealth.vic.gov.au\/health\/conditionsandtreatments\/cancer-and-food<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Cancer Research UK. (2024). <em>Food myths and cancer risk.<\/em> <a href=\"https:\/\/www.cancerresearchuk.org\/about-cancer\/causes-of-cancer\/cancer-myths-questions\/food-myths\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cancerresearchuk.org\/about-cancer\/causes-of-cancer\/cancer-myths-questions\/food-myths<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Centers for Disease Control and Prevention (2010). <em>How Tobacco Smoke Causes Disease: The Biology and Behavioral Basis for Smoking-Attributable Disease: A Report of the Surgeon General.<\/em> [online] Nih.gov. Available at: <a href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/books\/NBK53010\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/books\/NBK53010\/<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Cleveland Clinic. (2024). <em>Cancer<\/em>. <a href=\"https:\/\/my.clevelandclinic.org\/health\/diseases\/12194-cancer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/my.clevelandclinic.org\/health\/diseases\/12194-cancer<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Cleveland Clinic. (2024). <em>Estrogen Receptor-Positive Breast Cancer (ER+).<\/em> <a href=\"https:\/\/my.clevelandclinic.org\/health\/diseases\/er-positive-breast-cancer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/my.clevelandclinic.org\/health\/diseases\/er-positive-breast-cancer<\/a> &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Debras, C., Chazelas, E., Srour, B., Kesse-Guyot, E., Julia, C., Zelek, L., Aga\u00ebsse, C., Druesne-Pecollo, N., Galan, P., Hercberg, S., Latino-Martel, P., Deschasaux, M., &amp; Touvier, M. (2020). Total and added sugar intakes, sugar types, and cancer risk: results from the prospective NutriNet-Sant\u00e9 cohort.&nbsp;<em>The American journal of clinical nutrition<\/em>,&nbsp;<em>112<\/em>(5), 1267\u20131279. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1093\/ajcn\/nqaa246\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/doi.org\/10.1093\/ajcn\/nqaa246<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Halodoc. (2020). <em>Makanan Gosong Sebabkan Kanker, Mitos atau Fakta?<\/em>. <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/makanan-gosong-sebabkan-kanker-mitos-atau-fakta?srsltid=AfmBOopF_QAVn5v72vU9qtNiizrHGhDM0MFwjFDHByHakv8AgSFgKWeO\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/makanan-gosong-sebabkan-kanker-mitos-atau-fakta?srsltid=AfmBOopF_QAVn5v72vU9qtNiizrHGhDM0MFwjFDHByHakv8AgSFgKWeO<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Hu, J., Wang, J., Li, Y., Xue, K., &amp; Kan, J. (2023). Use of Dietary Fibers in Reducing the Risk of Several Cancer Types: An Umbrella Review.&nbsp;<em>Nutrients<\/em>,&nbsp;<em>15<\/em>(11), 2545. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/nu15112545\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/nu15112545<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kemenkes RI. (2024). <em>Strategi Komprehensif Penanganan Kanker di Indonesia: Rencana Kanker Nasional 2024-2034<\/em>. <a href=\"https:\/\/p2ptm.kemkes.go.id\/informasi-p2ptm\/strategi-komprehensif-penanganan-kanker-di-indonesia-rencana-kanker-nasional-2024-2034\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/p2ptm.kemkes.go.id\/informasi-p2ptm\/strategi-komprehensif-penanganan-kanker-di-indonesia-rencana-kanker-nasional-2024-2034<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Key, T. J., Bradbury, K. E., Perez-Cornago, A., Sinha, R., Tsilidis, K. K., &amp; Tsugane, S. (2020). Diet, nutrition, and cancer risk: what do we know and what is the way forward?.&nbsp;<em>BMJ (Clinical research ed.)<\/em>,&nbsp;<em>368<\/em>, m511. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1136\/bmj.m511\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/doi.org\/10.1136\/bmj.m511<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>National Cancer Institute. (nd) <em>Diet<\/em>. <a href=\"https:\/\/www.cancer.gov\/about-cancer\/causes-prevention\/risk\/diet\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.cancer.gov\/about-cancer\/causes-prevention\/risk\/diet<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Nunez, K. (2024). <em>6 Foods That May Increase Your Risk of Cancer<\/em>. <a href=\"https:\/\/www.healthline.com\/health\/cancer\/cancer-causing-foods\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.healthline.com\/health\/cancer\/cancer-causing-foods<\/a> Strumylaite, L., Sharp, S.J., Kregzdyte, R., Poskiene, L., Algirdas Bogusevicius and Pranys, D. (2015). <em>The Association of Low-To-Moderate Alcohol Consumption with Breast<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ladies, mungkin kamu pernah mendengar bahwa beberapa makanan tertentu dapat menyebabkan kanker.<br \/>\nApa sajakah makanan pemicu kanker itu? Yuk Cari Tahu!<\/p>","protected":false},"author":6,"featured_media":5885,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[922,1197,1227,1225,1226,42,802,17],"class_list":["post-5884","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-everyday","tag-fakta-diet","tag-kanker","tag-makanan-pemicu-kanker","tag-makanan-penyebab-kanker","tag-pemicu-kanker","tag-tips-diet","tag-wrp","tag-wrp-diet"],"acf":[],"publishpress_future_action":{"enabled":false,"date":"2026-04-29 17:41:12","action":"change-status","newStatus":"draft","terms":[],"taxonomy":"category","extraData":[]},"publishpress_future_workflow_manual_trigger":{"enabledWorkflows":[]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5884","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5884"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5884\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wrp.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}