Kenapa Kita Ingin Makan Terus Saat Lagi Stres?

Pernah tidak Ladies tiba-tiba buka kulkas jam 11 malam padahal perut sebenarnya tidak lapar cuma pikiran emang lagi penuh banget. Jawabannya ternyata karena ada mekanisme biologis yang bekerja di balik layar tubuh kita, simak selengkapnya pada artikel ini ya Ladies.

Otak dan Hormon yang Berperan

stress

Saat stres tubuh melepaskan hormon kortisol. Penelitian dari UCSF yang dipimpin Norman Pecoraro dan Mary Dallman menemukan bahwa kortisol mendorong perilaku mencari kesenangan termasuk makan makanan tinggi energi. Contohnya seperti gula dan lemak karena glukokortikoid mendorong perilaku mencari kesenangan termasuk makan makanan tinggi energi. Menariknya makanan tersebut justru memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah aman dan bisa berhenti waspada, tubuh mengirim pesan ke otak bahwa semuanya baik-baik saja karena sudah terisi energi yang tinggi. Jadi kalau kamu ngerasa lega setelah makan camilan manis saat lagi banyak pikiran itu memang respons tubuh yang sudah terprogram.

Selain kortisol ada juga peran serotonin. Ketika kadar kortisol naik aktivitas serotonin justru menurun dan bikin mood ikut turun, lonjakan kortisol menyebabkan penurunan aktivitas serotonin yang berujung pada suasana hati yang memburuk. Sebagai kompensasi otak jadi mengidam makanan tinggi karbohidrat dan gula karena bisa mendongkrak serotonin, sementara otak mengidam makanan tinggi karbohidrat dan gula yang bisa meningkatkan serotonin secara sementara dan memberi rasa lega sesaat. Di sinilah alasan kenapa saat capek atau tertekan yang keinget malah cokelat atau gorengan bukan sayur rebus.

Efek Jangka Panjang Kalau Dibiarkan

Masalahnya kalau stres ini terjadi terus menerus dan tidak cuma sesekali efeknya bisa merembet ke berat badan. Riset yang dimuat di jurnal ScienceDirect menunjukkan kadar kortisol tinggi berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat. Terutama makanan berlemak camilan dan makanan manis kadar kortisol tinggi berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat terutama makanan berlemak camilan dan terutama makanan manis. Stres kronis juga bisa memicu perubahan fisiologis dan perilaku yang berujung pada kenaikan berat badan mulai dari perubahan hormon makan emosional, aktivitas fisik yang menurun sampai gangguan tidur stres kronis dapat memicu perubahan fisiologis dan perilaku yang berujung pada kenaikan berat badan meliputi perubahan hormon makan emosional penurunan aktivitas fisik dan gangguan tidur.

Kortisol juga berperan langsung dalam penyimpanan lemak terutama di area perut. Kortisol dapat meningkatkan simpanan lemak di berbagai bagian tubuh terutama di area perut. Studi lain yang membandingkan orang dengan berat badan berlebih dan berat badan sehat, menemukan bahwa reaktivitas kortisol menjadi penanda kuat perilaku makan akibat stres yang berdampak pada indeks massa tubuh. Reaktivitas kortisol menjadi penanda kuat bahwa perilaku makan akibat stres yang memengaruhi indeks massa tubuh. Jadi lingkaran: stres-makan-lega-stres lagi ini kalau dibiarkan bisa jadi kebiasaan yang susah diputus.

Nah di titik inilah memilih camilan jadi penting. Bukan berarti Ladies harus menahan total dari rasa ‘nyaman’ yang selama ini dirasakan tubuh. Tapi dialihkan ke pilihan yang tetap bisa memanjakan lidah namun tekontrol untuk tubuh. Contohnya seperti WRP Chocolate Cookies dan WRP Edam Cheese Cookies. Selain bebas gula, WRP  Chocolate Cookies dan WRP Edam Cheese Cookies juga tinggi serat sehingga bisa bikin kenyang lebih lama. Produk WRP lengkap dan aman, sehingga tidak menimbulkan efek samping yang negatif. Bisa dikonsumsi setiap hari sesuai takaran saji.

Bebas Bergerak Meski Pikiran Lagi Ramai

Salah satu dampak stres yang sering kelewat adalah menurunnya aktivitas fisik. Stres kronis dapat menyebabkan penurunan motivasi untuk aktivitas fisik dan olahraga yang berujung pada gaya hidup yang lebih pasif. Padahal tubuh yang tetap bergerak justru membantu meredakan stres itu sendiri. Jadi kalau lagi banyak pikiran coba tetap jaga badan supaya bebas bergerak entah itu yoga di kamar, jalan kaki sebentar keliling komplek atau sekedar naik turun tangga di rumah. 

Pastikan Ladies melakukan olahraga selama minimal 25 menit dalam satu kali kegiatan. Karena menurut penelitian di menit ke 20 tubuh melepaskan hormon dopamin dan endorfin. Sehingga jika Ladies minimal melakukan olahraga 20-25 menit maka Ladies bisa menikmati manfaat dari adanya hormon dopamin dan endorfin yaitu Ladies akan merasa lebih happy, nyaman dan tingkat stress menurun. Ketika tingkat stress sudah turun, maka kita tidak mudah untuk tiba-tiba makan.

Lain kali kalau tiba-tiba pengen buka kulkas padahal tidak lapar coba sadari dulu ini lapar beneran atau cuma tubuh yang lagi cari rasa aman dari stres. Pilih camilan yang tetap kasih rasa nyaman tapi tidak bikin khawatir terkait kalori dan tetap usahakan badan bebas bergerak supaya rasa percaya diri tetap terjaga meski hari sedang berat. Ladies bisa dapatkan produk WRP di E-Commerce kesayangan kamu ya. So Ladies, let’s unlock your confidence!

 

 

 

Daftar Pustaka

Chao, A., Grilo, C. M., White, M. A., & Sinha, R. (2014). Food cravings mediate the relationship between chronic stress and body mass index. Journal of Health Psychology, 20(6), 721–729.

Dallman, M. F., Pecoraro, N. C., & la Fleur, S. E. (2005). Chronic stress and comfort foods: Self-medication and abdominal obesity. Brain, Behavior, and Immunity, 19(4), 275–280. https://doi.org/10.1016/j.bbi.2004.11.004

Michels, N., Sioen, I., Braet, C., Eiben, G., Hebestreit, A., Huybrechts, I., Vanaelst, B., Vyncke, K., & De Henauw, S. (2013). Stress, emotional eating behaviour and dietary patterns in children. Appetite, 62, 156–164. https://doi.org/10.1016/j.appet.2012.10.026

Pecoraro, N., Reyes, F., Gomez, F., Bhargava, A., & Dallman, M. F. (2004). Chronic stress promotes palatable feeding, which reduces signs of stress: Feedforward and feedback effects of chronic stress. Endocrinology, 145(8), 3754–3762. https://doi.org/10.1210/en.2004-0305

Rutters, F., Nieuwenhuizen, A. G., Lemmens, S. G., Born, J. M., & Westerterp-Plantenga, M. S. (2009). Acute stress-related changes in eating in the absence of hunger. Obesity, 17(1), 72–77. https://doi.org/10.1038/oby.2008.493

 

Article Lainnya